1 Sep 2010

cerita inspirasi “diri sendiri” (tugas ospek)

Author: zhery | Filed under: Academic

Uang Bukan Segalanya

Kehidupan memang mempunyai sisinya sendiri-sendiri. Membagi cerita dimana kita berdiri saat kita dilahirkan. Tuhan memberikan semua rezekinya untuk hambanya, tetapi tetap saja ada yang mengatakan bahwa Tuhan tidak adil.

Seragam putih abu-abu begitu membuat dunia remaja lebih hidup. Karena disanalah pendewasaan dan mencari jati diri dimulai. Tak ada beda dengan diriku yang masih menganggap masa SMA adalah masa dimana kita harus menikmati hidup selebar-lebarnya. Tidak banyak dari teman-temanku yang masih memandang pantas tidaknya seseorang menjadi teman gank dari penampilan dan keeksisan orang tersebut.

Siang hari sepulang sekolah aku dan teman-teman biasa menghabiskan waktu untuk nongkrong di tempat favorit kami. Bisa dibilang orang-orang dalam gank kami adalah orang berada dan cukup dikenal di sekolah. Pada saat itu dengan tidak sengaja aku melihat anak seumuran dengan kami menjajakan kue d trotoar cafe. Aku terus memandangi anak itu. Terlihat muka letih lesu tergurat di wajahnya. Tapi aku juga melihat semangat dia yang membuatnya berjalan menjajakan jualannya. Entah kenapa saat itu aku ingin sekali menghampiri anak itu. Lantas aku pergi menuju anak itu di trotoar saat dia sedang merapikan kue-kue yang dia bawa.

“Bisa beli kuenya?”, tanyaku.

“Oh, silahkan”, jawabnya sambil membukakan plastik menutup keranjangnya yg kelihatan sudah lapuk.

“Terimakasih ya. Hmm, ngomong-ngomong kamu masih sekolah?”

“Iya saya masih SMA, saya berdagang selepas pulang sekolah”.

“Maaf, orangtua kamu?”

“Orang tua saya …”, sejenak dia terdiam.

“Orang tua saya sudah lama meninggal”.

“Eh maaf maksud saya …”, potong aku dengan perasaan tidak enak.

“Tidak apa-apa. Saya tau kakak tidak bermaksud menanyakan hal itu. Tapi itulah yang terjadi pada saya. Saya harus membiayai hidup dengan berjualan seperti ini. Kalau tidak, saya tidak bisa melanjutkan sekolah. Saya memang tidak seberuntung anak-anak pada umumnya yang bisa berangkat ke sekolah dengan mobilnya, dengan buku-buku yang serba tercukupi. Tapi saya yakin Tuhan tidak akan mengecewakan hambanya yang berusaha. Saya yakin esok saya bisa menjadi sukses dan merasakan kenyamanan seperti mereka orang berada dengan kerja keras dan impian yang meski sulit untuk dipercaya dengan keadaan saya yang begini”.

Kata-kata anak tersebut membuat aku terdiam dan menyadari bahwa aku tidak pernah berpikir sebijak anak itu. Selama ini aku hanya menggunakan kekayaan orangtua, bukan kerja kerasku sendiri. Yang aku lakukan hanya membuang-buang uang bukan menghasilkan uang. Tidak pernah berpikir bagaimana sulitnya mencari uang untuk hidup.

Dan aku mulai sadar bahwa aku tidak lebih baik dari anak penjual kue tersebut.

1 Sep 2010

cerita inspirasi “orang lain” (tugas ospek)

Author: zhery | Filed under: Academic

Anak Buta

Berpikirlah dari sudut pandang yang berbeda..

Seorang anak buta duduk bersila di sebuah tangga pintu masuk pada sebuah supermarket. Yup, dia adalah pengemis yang mengharapkan belas kasihan dari para pengunjung yang berlalu lalang di depannya. Sebuah kaleng bekas berdiri tegak di depan anak itu dengan hanya beberapa keping uang receh di dalamnya, sedangkan kedua tangannya memegang sebuah papan yang bertuliskan “Saya buta, kasihanilah saya.”

Ada Seorang pria yang kebetulan lewat di depan anak kecil itu. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan beberapa keping uang receh, lalu memasukkannya ke dalam kaleng anak itu. Sejenak, pria itu memandang dan memperhatikan tulisan yang terpampang pada papan. Seperti sedang memikirkan sesuatu, dahinya mulai bergerak-gerak.

Lalu pria itu meminta papan yang dibawa anak itu, membaliknya, dan menuliskan beberapa kata di atasnya. Sambil tersenyum, pria itu kemudian mengembalikan papan tersebut, lalu pergi meninggalkannya. Sepeninggal pria itu, uang recehan pengunjung supermarket mulai mengalir lebih deras ke dalam kaleng anak itu. Kurang dari satu jam, kaleng anak itu sudah hampir penuh. Sebuah rejeki yang luar biasa bagi anak itu.

Beberapa waktu kemudian pria itu kembali menemui si anak lalu menyapanya. Si anak berterima kasih kepada pria itu, lalu menanyakan apa yang ditulis sang pria di papan miliknya. Pria itu menjawab, “Saya menulis, ‘Hari yang sangat indah, tetapi saya tidak bisa melihatnya.’ Saya hanya ingin mengutarakan betapa beruntungnya orang masih bisa melihat. Saya tidak ingin pengunjung memberikan uangnya hanya sekedar kasihan sama kamu. Saya ingin mereka memberi atas dasar terima kasih karena telah diingatkan untuk selalu bersyukur.”

Pria itu melanjutkan kata-katanya, “Selain untuk menambah penghasilanmu, saya ingin memberi pemahaman bahwa ketika hidup memberimu 100 alasan untuk menangis, tunjukkanlah bahwa masih ada 1000 alasan untuk tersenyum.”

bit torrents lotus karls mortgage calculator mortgage calculator uk Original premium news theme